Sunday, October 29, 2006

Mereka sakit...

Bila sang buah hati nan jauh disana menderita sakit dan harus diopname, sedih tak terperikan rasanya hati ini. Aku harus menutup percakapan dengan istriku ditelpon saat menerima kabar itu, hanya sekedar untuk menarik napas yang semakin sesak... ”Rivarian dan Amarilis sedang sakit bapak, sekarang lagi mau diopname.” Oh, please ya Allah yang maha menyembuhkan, berikan mereka kesabaran, kekuatan dan kesembuhan kembali...

Setiap hari aku suka menelpon mereka sampai mungkin 5 kali sehari untuk mendengarkan celoteh mereka yang jenaka. Si vari yang belum genap 3 tahun sedang boros-boronya mencecar si ibu dengan pertanyaan apa, apa, dan apa... Bukan itu saja, apa saja dia celotehin, kadang yang luput dari perhatian orang dewasa.

Aduh si Aisy, sedang lucu-lucunya mengeja kata-kata, si sabar dan penyayang kakaknya, mesti harus berebut perhatian dengan si ibu. Dia lebih lagi suka bercerita, lebih tepat mungkin mendendangkan lagu. Seneng rasanya mendengar kabar gembira tentang mereka lewat SMS istriku.

Aisyah subhanallah pinter sekali, mas. Umurnya baru 10 bulan tapi udah banyak hal-hal sederhana yang dia udah ngerti, cerewetnya luar biasa, sampai serak suaranya..” (25 Mei 2006).
”...Vari lari-lari dengan empeng di mulutnya, ais ngejar-ngejar dengan merangkak. Tapi vari baik banget sama ais, makanan dan mainan di kasihkan ke adeknya. Kalau vari nangis, ais ngusap-ngusap...” (26 Mei 2006).
”...ada donat baru: donat kucing, itu kata vari. Ceritanya ada tukang donat lagi jualan di depan rumah, terus ada kucing lewat, vari langsung nyanyi: donat kucing...” (1 Juni 2006)

Aku selalu menyimpan sms dari istriku tentang mereka, terutama yang bernada gembira dan lucu-lucu. Terbayang tingkah polah mereka, menggemaskan, dan membuatku berbunga-bunga. Aku tak perlu menanyakan apa yang membuat mereka begitu ceria. Tapi kadang polah mereka bisa berubah sebaliknya membuat aku khawatir seperti cerita istriku berikut: ”Vari tadi kecebur kolam depan pak hartoyo, nangisnya setelah kuangkat dari kolam, aku mendekap badanya yang basah. Dalam tangisnya dia memanggil-manggil kamu. Sekarang sih udah riang, bercanda-canda..” (1 Juni 2006)

Tentu saja aku bertanya kok bisa-bisanya kecebur kolam, mbak imus kemana? Vari emang seneng banget main di kolam depan rumah pak hartoyo dan pak teguh, karena ada ikannya dan airnya penuh. Biasanya aku biarkan dia ngamatin pergerakan ikan sampai dia pengin berenang bersama di dalamnya, sepertinya. Lengah dikit aja pasti udah masuk ke kolam. Mbak imus yang pandai menjaga vari pun kadang kecolongan karena lincahnya vari.

Jika kabar gembira, sms selalu kusimpan dan tak pernah kuhapus. Aku bisa membacanya lagi saat senggang. Tapi untuk sms dengan kabar sedih seperti sakitnya anak-anak, aku tidak kuat lama menyimpannya karena selalu terbawa kesedihan dan aku tidak sekuat istriku dalam mengingat berbagai memori suka dan duka. Rasa optimisku selalu menghalangiku untuk menyimpan memori kesedihan. Sementara istriku, lebih mampu menguasai perasaan itu menjadi ekspresi yang terlukiskan. Entah lah...

Duhai buah hatiku, yang terbaring lemah di permata bunda
Pastilah malaikatmu akan menghiburmu disana
Ibu akan selalu bersama kalian
Sabarlah nak, kuatkan, dan lewati hari-hari sakitmu
Allah akan segera meringankan ujian ini buat kalian

Duhai permata hatiku,
Maaf kan aku ndak bisa mendampingimu kini...
Mungkin ujian ini sebenarnya buatku
tapi kalian yang harus memikulnya
Maaf kan aku nak
Biarkanlah aku yang menanggung rasa sakit itu

Ya allah
Kumpulkan kami dalam keceriaan dan kebahagiaan selalu,
Biarkan kesedihan ini berlalu
Berilah kami kekuatan untuk selalu bersabar
Suatu saat pasti Engkau mengijinkan kami bersua lagi...

Amien...

Wageningen, 29 Oktober 2006

Monday, October 23, 2006

Idul Fitri 1427 di Wageningen

Hari ini adalah lebaran pertama ku di Wageningen, kota kecil di tengah-tengah negeri belanda yang tak seberapa besar. Sebuah pagi di awal musim gugur, tepatnya tanggal 23 Oktober 2006 jam 07.45, setelah ngaret 15 menit, aku dan kawan-kawan dari Kingdom of Dijkgraaf berjumlah 2 cowok, 5 cewek mengayuh sepeda menuju ke "tanah lapang" di dekat centrum. Pagi masih gelap, selimut kabut masih belum tersingkap, hujan rintik-rintik mengiringi kayuhan pedal kami. Dingin yang menusuk tak begitu terasa, mungkin karena hangatnya suasana eidul fitri setelah sebulan berpuasa...sungguh pagi yang berkesan.

"Tanah lapang" yang dimaksud ternyata sama sekali bukan tanah lapang seperti halnya di kampung sendiri, tapi sebuah gedung tempat sekolah taman kanak-kanak. Eit, sebentar... bangunan taman kanak-kanak itu jauh lebih bagus dari bangunan sekolah dasar inpres di indonesia loh... Bangunan seluas ukuran masjid 10 x 10 meter bertingkat dua itu sanggup menampung paling tidak 200 jamaah muslimin dan muslimat. Menurut pak Zaini, panitia menyewa gedung TK tersebut untuk sholat eid yang kebetulan sedang tidak dipakai karena libur awal musim gugur. Sebelumnya, gedung ini juga dipakai untuk buka puasa bersama muslim international dan sholat teraweh berjamaah. Sebenarnya komunitas muslim Wageningen sedang merencanakan untuk membangun sebuah masjid dengan dana paling tidak 100.000 euro atau lebih dari 1 milyar untuk sebuah bangunan masjid yang sederhana. Apabila ada komunitas muslim sebanyak 1000 orang di Wageningen dan sekitarnya berarti satu orang minimal harus menyumbang 100 euro, tidak seberapa besar memang tapi butuh keikhlasan yang tinggi...

Sholat ied dimulai sekitar jam 9, setelah sebelumnya khotib memberi kesempatan jamaah masjid untuk membayar zakat fitrah sebesar 5 euro bagi yang belum menunaikannya karena zakat fitrah harus dibayarkan sebelum sholat dimulai. Dua orang petugas berkeliling ke tiap shaf sambil membawa kotak zakat. Takbir terus dikumandangkan dengan nada suara yang datar, tak seperti di Indonesia yang dilagukan dengan merdu mendayu-dayu. Tapi takbir disini lebih terdengar seperti koor barisan tentara yang bernyanyi lagu-lagu perjuangan...semangat!

Khatib menyampaikan khutbah dalam bahasa Arab dan English. Seperti halnya khatib di Indonesia, sang khatib mengajukan pertanyaan retoris kepada jamaah, apakah kita akan bersemangat beribadah hanya pada bulan Ramadhan? Apakah selepas Ramadhan, kita akan menjauh kembali dari Al Quran, sholat malam, puasa, berinfak, dan amalan kebaikan yang lain? Bulan Ramadhan hanyalah bulan seperti bulan lain dalam satu tahun dengan nilai yang lebih tinggi dibanding bulan lain, tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah tidaklah kemudian berhenti sampai di sini. Sang khatib juga berpesan untuk menunaikan puasa 6 hari di bulan Syawal karena nilai pahalanya sama dengan seolah-olah kita puasa sepanjang tahun.

Selepas sholat dan khutbah, jamaah kemudian saling bermaaf-maafan dan menyampaikan ucapan selamat idul fitri, sebagian ada yang berpelukan dan cium pipi 3 kali, sebagian ada yang cuman jabat tangan dan berpelukan sesuai dengan adat negaranya masing-masing. Beragam ras mulai dari penduduk lokal belanda, dan pendatang dari timur tengah dan afrika utara serta muslim dari asia mewarnai suasana pelangi tersebut. It's colorful and seems very nice.

Allaahuakbar allaahuakbar walilaahilhamd...! Taqabalallahu minna wa minkum...
Ya allah terimalah amal ibadah kami, dan terus bimbing kami menggapai petunjuk kebenaran-Mu. Engkau lah zat Yang maha berkuasa untuk membolak-balikan hati kami, tetapkan lah kami untuk mengerti dan mengeja tanda-tanda zaman, agar sinar-Mu menerangi jalan kami...Amien.


Saturday, October 21, 2006

Hai sayang

Sekian lama kekasihku tidak terhubung dengan internet karena harus keluar kota untuk suatu keperluan yang tidak sebentar. Setelah sempet ketemu dengan internet, ini adalah pesan yang kuterima darinya:

Hai sayang...

Akhirnya aku bisa email lagi ke kamu ya. Lamaaaaaaaaaaaaaa banget rasanya gak ngubungin kamu lewat eamail. Mas, aku merasa sangat beruntung bersuami kamu. Kamu kan tahu aku memang terbiasa mengingat sisi baik dari setiap peristiwa yg pernah aku alamin. Untuk hal-hal buruk aja aku melakukan itu, apalagi untuk hal-hal baik yang memang berkesan. Hari-hari yang kujalanin bersama kamu amat manis. Emang sih ada saat dimana aku merasa jengkel, marah dan bahkan ingin meledak. Kamu juga gitu kan. Tapi buatku, jauh lebih banyak hari-hari indah tanpa mendung.

Jika tidak ada larangan dalam agama kita untuk menyamakan seseorang dengan makhluk-Nya yang kita sebut matahari, aku pasti sudah memberimu label itu. Matahari yang menyinari hidupku, menghangatkan hatiku yang dulu kerap menggigil kedinginan. Kadang terlintas dalam pikiranku kenapa kamu mau menemani hidupku. Kenapa kamu memilihku untuk berbagi hidup denganku?
Aku cuma bisa mensyukuri, mas. Mensyukuri nikmat yang diberikan Allah untukku. Aku ingin kita lebih mendekatkan diri pada Allah. Kalau nanti kita sudah bersama lagi (insyaallah) kita lebih intens beraktivitas mengolah ruhani kita ya. Amien.
Aku cinta kamu, mas.

Purwobinangun, 17 Oktober 2006
kekasihmu, Yuli

Wednesday, October 18, 2006

Renungan Ramadhan...


(taken from Milist PPI-Pengajian, catatan Perenungan Ruhani (M. Nursani), posted by Ruanda Sugardiman, Wageningen)


Saudaraku...
Satu di antara pekerjaan syaitan adalah menimbulkan keraguan dan khayalan kosong. Keraguan dan khayalan umumnya akan mengarahkan pada kekhawatiran dan putus asa dari rahmat Allah. Gelisah yg tak jelas apa yg menjadi inti kegelisahan, padahal segala sesuatu yg dikhawatirkan itu belum tentu terjadi. Gundah yg tak ada asalnya, padahal peristiwa yg melahirkan kegundahan itu belum dialami.

Sungguh kita kerap menjadi objek syaitan. Syaitanlah yg berjanji, "Dan aku (syaitan) benar-benar akan menyesatkan mereka dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka"(QS. An-Nisa:119) .

Saudaraku...
Jauhilah pikiran yang tidak bermanfaat. Buanglah kekhawatiran yang tidak pada tempatnya. Campakkan khayalan kosong yang tak jelas ujung pangkalnya itu. Karena semuanya takkan menambah apa-apa kecuali membuat kita makin terpuruk pada jerat frustasi dan ketakutan yg tak mendasar. Kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan yang tak ada ujung pangkalnya. Merasa sunyi dalam keramaian. Sedih di tengah kegembiraan. Atau bahkan, mati di tengah sejuta harapan utk hidup. Jika kita pernah mengalami suasana hati seperti itu, maka Allah SWT memberikan jawabannya. "Sesungguhnya orang-orang yg bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat pada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan nya" (QS. Al-A`raf:201- 202) itulah jawaban dari Allah SWT.

Saudaraku yg dikasihi Allah,
Menurut Imam al-Ghazali, awal dari segala perbuatan adalah kegiatan berfikir. Karenanya, orang yang selalu berfikir panjang dan mendalam (bertafakur) akan lebih mudah melaksanakan segala ibadah ketaatan yang lainnya. "Jika sudah sampai di hati, maka keadaan hati akan berubah. Jika hati sudah berubah, maka perilaku anggota badan akan berubah. Jika pebuatan mengikuti keadaan, maka keadaan mengikuti ilmu, dan ilmu mengikuti pikiran. Oleh karena itu pikiran adalah awal kunci segala kebaikan." (Abu Hamid al-Ghazaly, Ihya `Ulumuddin,IV/ 389)

Bertafakur bukan berkhayal dan berangan-angan kosong. Bukan memikirkan soal keduniaan yg tak pernah habis. Bukan menguras pikiran untuk membahas problematika hidup yg hanya ada di dunia. Tapi mengarahkan kita utk memikirkan fenomena alam dan kaitannya dengan keimanan. Itulah tafakur yg akan mempunyai pengaruh pada kebersihan hati. Tafakur adalah berfikir menerawang jauh dan merobos alam dunia ke dalam alam akhirat, dari alam ciptaan menuju kepada Sang Pencipta.

Berfikir kadang hanya terbatas pada upaya memecahkan masalah-masalah kehidupan dunia, sedang tafakur dapat menerobos sempitnya dunia ini menuju alam akhirat yg luas, keluar dari belenggu materi menuju alam spiritual yg tiada batas. Karena itu, jika kita memiliki hati yg selalu merenung atau bertafakur ttg ketinggian dan keagungan Allah SWT serta memikirkan kehidupan akhirat, keadaan itu akan memberi kemampuan kita membongkar dengan mudah niat-niat jahat yg terlintas dlm benak kita sendiri.

Kita akan memiliki kepekaan dan ketajaman sebagai hasil dzikir dan tafakur yg berkesinambungan itu. Setiap kali terlintas suatu niat jahat atau buruk, maka pikiran, perasaan dan pandangan baik kita dapat segera mengetahui dan mengendalikan diri utk menghancurkan niat jahat atau buruk itu. Sungguh tepat sekali apa yg diwasiatkan Amir bin Abi Qais rahimullah, "Aku mendengar bukan satu kali, dua kali atau tiga kali dari sahabat nabi yg mengatakan, "Sesungguhnya pelita atau cahaya keimanan itu ada pada tafakur." Sofyan bin Uyainah juga pernah mengatakan, "Pemikiran itu adalah cahaya yg masuk dlm hatimu dan mungkin bisa digambarkan spt dalam syair: 'Jika seseorang bertafakur, maka segala sesuatu ada pelajaran baginya" (Tafsir ibnu Kastir, 1/438)

Lihatlah kebiasaan bertafakur Abu Sulaiman ad-Darani, seorang shalih dari generasi tabiin, sehingga ia kerap dapat memetik pelajaran utk dirinya. "Sekedar aku keluar dari rumah dan apa yg tertangkap oleh mataku, pasti aku melihat bahwa ada nikmat Allah atasku dari apa yang kulihat. Dan dari sana aku memetik pelajaran untukku." (Tafsir Ibnu katsir, 1/438).

Saudaraku...
Pernah ada seorang pemuda yg mengeluh akan kebekuan hatinya kepada Hasan al-banna. Hasan al-banna lalu mengatakan, "Berfikirlah dan berdzikir dlm waktu-waktu senyap, saat-saat kesendirian. Munajat dan merenungi alam semesta yg sangat istimewa dan menganggumkan, kemudian mengangungkan keindahan dan kemuliaan Allah dari alam semesta itu, lalu menyinambungkan kegiatan seperti itu, berlama - lama memikirkan hal itu dgn menghadirkan keangungan Sang Pencipta. Menggerakkan hati, lisan terhadap semua tanda - tanda keagungan yg menajubkan dan hikmah Allah yg sangat tinggi. Semua itu wahai saudaraku yang mullia, tafakkur akan menjadikan hatimu hidup, sinarnya akan menerangi seluruh sisi jiwa dgn keimanan dan keyakinan. Bukankah Allah SWT berfirman dlm al-Qur`an, "Sesungguhhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam adalah tanda-tanda bagi ulul albab (orang yang berakal)". (al-Aqidah, Sayyid Qutb,104).

Pikirkanlah, Allah selalu melihat di mana saja kita berada. Kekuasaan-Nya sangat dekat dgn diri kita bahkan ada di urat nyawa kita. Mungkin, meski sangat dekat, kita tidak merasakannya. Kita sudah melakukan kesombongan dan maksiat yg menyebabkan kita menjadi semakin 'jauh' dengan Allah. Dosa kita menjadi 'hijab' yg menghalangi kita dari merasakan kebesaran Allah SWT. Siapa yg merasakan kebesaran Allah SWT, siapa yg merasakan keadaan ini? Hanya kita sendiri. Orang lain tidak dapat menilai sejauh mana kedekatan kita dgn Allah kecuali hanya melihat dan menilai secra zahir. Sementara dari segi batinnya, hanya Allah yg Maha Mengetahui.

Mari sama-sama bertafakur saudaraku,Bertafakur, apakah semua nikmat Allah itu sudah kita syukuri. Bertafakur, apakah karunia Allah di alam semesta ini telah menjadikan kita lebih mencintai dan mengagungkan Allah sebagai Penciptanya? Bertafakur, bagaimana kehidupan kita di akhirat? Bertafakurlah, bagaimana nasib kita setelah mati? Bertafakurlah, bagaimana keadaan kita di dalam kuburan? Bertafakurlah apakah kita akan memasuki surga atau neraka? Bertafakurlah, apakah timbangan amal kita sudah cukup?

Marilah bertafakur...

Tuesday, October 17, 2006

The first day in the housing



Hari itu adalah malam pertama ku tinggal di housing baru di Wageningen setelah empat bulan menikmati alam kota paling selatan di Belanda, Maastricht yang indah...

Seorang perempuan belanda keluar dari sebuah kamar next to my door di housing baruku, Dijkgraaf 4 lantai 17 Blok B Room 5, Wageningen. Sepertinya dia hendak mandi, terlihat dari penampilannya yang memakai baju mandi dengan lengan panjang dan lilitan tali di pinggannya. Kepalanya tampak jelas berbalut handuk warna terang sama dengan baju mandinya.

Dia melewati kami begitu saja yang sedang berbincang di koridor di antara kamar-kamar housing yang berjumlah 10, tanpa suara dan tampak bergegas. Kebetulan saat dia lewat, aku lagi menerima penjelasan dari perempuan belanda juga tentang beberapa "rules" hidup di housing ini.

Dalam hitungan detik kemudian, muncul dari kamar yang sama dengan perempuan tadi, seorang lelaki belanda tinggi besar yang juga nampaknya hendak pergi mandi. Tampak telanjang dada dan terlihat lilitan handuknya yang menutupi bagian bawah perutnya...

Nah lho...

Si Harmke, cewek yang kasih penjelasan ke aku menerangkan detil housing dan rules yang mereka jalani. Dari 10 orang yang tinggal di blokku, satu dari Indonesia (aku, baru datang), satu dari China, dan sisanya adalah Belanda tulen. Mereka pelajar adalah BSc and MSc students di Wageningen University.

Mereka tampak berusaha mengatur ritme kehidupan di housing: jadwal piket bersih-bersih dapur, iuran bulanan untuk washing machine, sharing food and drink, dan lain-lain. Aturan punishment dan reward juga diterapkan secara jelas. Indikatornya sangat konkrit....uang! Yang rajin akan dapat pengembalian uang iuran atau uang belanja bersama, yang malas harus membayar uang iuran lebih... Si Harmke menunjukkan angka-angka di dinding sebelah dapur, siapa dapat berapa dan siapa minus berapa euro...

Nah lho...

Kamarku di lantai yang paling atas, 17 !!! Hadiah ulang tahun kemerdekaan kali ye...
Kehidupan anak-anak fellows IFP Belanda mulai berubah. Kami tidak lagi bersama dalam satu housing seperti di Maastricht. Aku dan Yuyun berbeda gedung cukup jauh, Icak sendirian di Den Haag masih nunggu Renvi yang masih menimang-nimang "mainan" barunya; Ani juga mulai menghirup udara Leiden, sambil menungggu kedatangan Pak Joko gabung... And si Paul van Kampen, sudah menikmati kehidupan indahnya di Biara...

Nah, begini baru kerasa arti kebersamaan, kapan nih reuni ke Maastricht..., ke Kampen juga boleh, biar tahu kalau Kampen emang ada... :-p


20 Agustus 2006

Sunday, October 15, 2006

Malaikat di Rumahmu....

(taken from milist WUR2006@yahoogroups.com, posted by M. Muchtar, thanks for him)
Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia.


Dia bertanya kepadaTuhannya : "Para malaikat disini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah"?Tuhan menjawab, "Saya telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu. "

"Tapi disini, di dalam syurga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk bahagia." "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia."

"....bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang bercakap kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka?" "Malaikatmu akan bercakap kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang pernah kamu dengar; penuh kesabaran dan perhatian, dia akan mengajarkan bagaimana cara kamu bercakap."

"...apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepada-Mu ?" "Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa."

"Saya mendengar bahwa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya?" "Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal tersebut mungkin dapat mengancam jiwanya."

"Tapi, saya pasti akan merasa sedih kerana tidak melihat-Mu lagi." "Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu."

Saat itu Syurga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar,

Sang anak bertanya perlahan, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahuku nama malaikat tersebut?" "Kamu akan memanggil malaikatmu, Ibu."
Ingatlah selalu kasih sayang ibu, berdoalah untuknya dan cintailah dia sepanjang masa.


remembering to my mom,...bunda forgive me...
to my soulmate, thousands of thanks to be an angel for Vari and Aisy
and to teh Wiwin, for having a new baby..
and all mother in the world...

Wageningen, 15 October 2006

Saturday, October 14, 2006

The first day go to school


6 September, hari itu adalah perjumpaan pertamaku di kampus Zodiac, Wageningen University dalam mata kuliah Trend in Forest and Nature Conservation. Si Arrend Bruinsting – disini menyebut dosen tidak perlu pakai gelar mister, bapak, ibu atau professor sekalipun, tapi jangan coba-coba dipraktekin di Negara sendiri ya, bisa gaswat…- koordinator mata kuliah ini menyampaikan bahwa kita mau ngadain workshop selama mengikuti kuliah ini… Workshop?! What’s a pity! Datang jauh-jauh mau kuliah malah disuruh workshop? Makanan apa pula itu?

Tanpa ba bi bu lagi, setelah sedikit kasih pengantar, dia langsung nawarin siapa yang mau jadi sukarelawan untuk menjadi presenter, pembahas dan notulen untuk workshop hari pertama esok harinya. Gila kupikir, biasanya aku seneng ngangkat tangan duluan, tapi ini harus ngomong pakai bahasa inggris, plus belum pernah baca artikelnya kayak apa, and harus bikin presentasi dalam waktu semalam. Emang roro jongrang, yang katanya bisa bikin 1000 candi semalam! Enak aja...kurungkan niatku buat jadi sukarelawan, lihat dulu petanya kayak apa.

Rupanya dagangannya si Arend agak kurang laku, tak satupun yang menyantap tawarannya, makanya dia langsung tunjuk 3 pasang buat presentasi, discussion point, and summary. Wah, rasain dah lue...aku cuman bisa bernafas lega... Setelah sukses menunjuk sukarelawan-mestinya « sukapaksaan » dong, barulah dia menawarkan pada yang lain untuk menuliskan jadwal presentasi, discussion point, and summary sesuai program dan tema yang sudah disiapkan. Kupilih semuanya dalam forest and nature policy group. Sebenarnnya pengin milih juga di forest ecology and management group, tapi udah keburu diambil orang. Yo wissss….jadilah tanggal 27 September untuk discussion point on rethinking community based conservation, tgl 28 buat summary on International ENGO role, and tanggal 4 October I have to do presentation on Financing SFM!)….Lumayan ada waktu 2 – 3 minggu persiapan.

Pengalaman hari itu cukup berharga bagiku, paling tidak satu metode pengajaran dalam kuliah yang belum pernah aku alami, workshop! Koordinator mata kuliah telah menyiapkan 19 artikel yang telah dipublikasikan dalam jurnal international tentang penelitian dari 4 group: plant and nature conservation, forest ecology and management, forest and nature policy, and forest resource ecology. Artikel itu paling lama berusia 10 tahun (1996) dan paling muda 2004, kesemuanya menggambarkan perkembangan penelitian yang telah dan masih dilaksanakan oleh Wageningen University dan beberapa peneliti international baik di Negara maju maupun berkembang.

Artikel itu dipilih sedemikian rupa untuk merepresentasikan trends dalam bidang kehutanan dan konservasi sumber daya alam yang terbaru. Kita, mahasiswa dibagi menjadi kelompok presenter untuk menyajikan artikel itu, kelompok pembahas untuk mengkritisi artikel, dan kelompik summary untuk mendokumentasikan hasil diskusi selama workshop. Workshopnya sendiri berlangsung kurang lebih 45 menit sampai satu jam. Setiap hari selama 4 hari seminggu mahasiswa terlibat dalam diskusi dengan tema yang beragam. Satu jam berikutnya adalah jatah dosen untuk memberikan kuliah tentang tema yang berkaitan dengan artikel yang baru dibahas, kadang 100 % cocok dengan tema, kadang hanya 30 % yang berkaitan dengan teori dalam artikel yang dibahas.

Pelajaran lain yang terkesan bagiku adalah kerjasama team dosen dalam mata kuliah ini. Ada 19 artikel yang berarti melibatkan 19 dosen lebih belum termasuk para coordinator group, jadi total berjumlah 21 dosen yang terlibat dalam mata kuliah ini. Masing-masing dosen menjadi tim ahli untuk memandu workshop dan memang punya keahlian yang sangat khusus, seperti ahli peathland, ahli carbon, dendrochronology, ahli satwa, ahli community based, policy, rumput-rumputan, dsb. Wow, setiap hari dosennya selalu gantian.

Selama berlangsungnya workshop, pelajaran lain yang bisa diperoleh adalah kebebasan berpendapat. Atmosphere academic sangat terasa disini. Mahasiswa bebas untuk berpendapat sekecil apapun kontribusinya dan sepanjang itu masuk logika dan beralasan, meskipun kadang menyalahi pendapat umum, sangat dihargai oleh dosen. Kemampuan berekspresi dengan bahasa inggris ala kadarnya dan pengakuan dosen atas keberagaman berpendapat secara bebas menjadi titik point yang sangat kurasakan. Aku mendambakannya dalam proses pendidikan di negeriku.

Mata kuliah ini cukup berat, 19 artikel, diskusi dalam bahasa inggris, dan kadang penguasaan materi yang bukan pada bidangnya membuat diskusi ngalor ngidul ndak focus pada sasaran. Kadang dosen pun tak mempunyai wawasan seluas yang diharapkan dan itu tidak membuat dosen menjadi jatuh kewibawaanya, karena memang topic bahasan bisa jadi meluas ke bidang yang sama sekali dia tidak kuasai atau ilmunya belum nyampe.

Seminggu lagi, mata kuliah ini akan diujikan, lulus sepanjang yang bisa kulakukan, harapan yang masih bisa kuusahakan, sebatas ikhtiyar menunaikan kewajiban seorang manusia pada Tuhannya, sponsornya, dan terutama pada diri sendiri... Seorang teman jauh hari sudah mengucapkan sympathy jika nanti tidak lulus, toh ada reexam...katanya. Duh...

Sunday, October 08, 2006

Sisi lain hanacaraka

Hanacaraka selalu dikaitkan dengan kisah datangnya Aji Saka ke tanah jawa dalam menunaikan misinya membrantas kejahatan di bumi Medang Kamulan yang dipimpin oleh Dewata Cengkar. Kisahnya bersama dengan dua utusan itu lah menandai lahirnya aksara jawa ini, meskipun dilatarbelakangi peristiwa yang memilukan. Tetapi peristiwa kepahlawanan itu menjadi pelajaran panjang bagi penduduk pulau jawa dengan filsafat hanacarakanya sampai kurun waktu tertentu.

Hanacaraka juga tidak bisa dilepaskan dari budaya modern kaum muda Jogja di akhir abad 20 yang kemudian secara kreatif menasional dengan kaos plesetan hanacaraka: "DaGaDu" alias your eyes... Wherever you are there, I am there as well secara kreatif bisa ditulis menjadi nidada panapanyu nibigu pana nyadu...sebuah otak-atik kreatif yang mendatangkan bisnis milyaran rupiah bagi pemegang patentnya dan sekaligus penjiplaknya...

Ternyata ada sisi lain dari hanacaraka selain sejarah, bisnis, dan budaya. Sisi spiritual hanacaraka menjadi pelajaran yang sangat menarik seperti nampak pada tulisan yang digubah oleh Sri Susuhunan Paku Buwono IX. Yasadipuro mengutipnya pada sarasehan yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal, 13 Juli 1992. (
www.jawapalace.org)

Menurutnya filsafat hidup manusia mendasarkan diri pada aksara ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya. Ajaran filsafat hidup berdasarkan aksara Jawa itu sebagai berikut :

Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada "utusan" yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan ).

Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data "saatnya (dipanggil) "tidak boleh sawala" mengelak " manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha " sama " atau sesuai, jumbuh, cocok " tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu " menang, unggul " sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan " sekedar menang " atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

Nah, hanacaraka hanyalah sebuah aksara seperti halnya alfabet yang lain, pintu bagi manuisa untuk bisa membaca "kepentingan" Tuhan, manusia, dan alam.