Mereka sakit...
Bila sang buah hati nan jauh disana menderita sakit dan harus diopname, sedih tak terperikan rasanya hati ini. Aku harus menutup percakapan dengan istriku ditelpon saat menerima kabar itu, hanya sekedar untuk menarik napas yang semakin sesak... ”Rivarian dan Amarilis sedang sakit bapak, sekarang lagi mau diopname.” Oh, please ya Allah yang maha menyembuhkan, berikan mereka kesabaran, kekuatan dan kesembuhan kembali...Setiap hari aku suka menelpon mereka sampai mungkin 5 kali sehari untuk mendengarkan celoteh mereka yang jenaka. Si vari yang
belum genap 3 tahun sedang boros-boronya mencecar si ibu dengan pertanyaan apa, apa, dan apa... Bukan itu saja, apa saja dia celotehin, kadang yang luput dari perhatian orang dewasa.Aduh si Aisy, sedang lucu-lucunya mengeja kata-kata, si sabar dan penyayang kakaknya, mesti harus berebut perhatian dengan si ibu. Dia lebih lagi suka bercerita, lebih tepat mungkin mendendangkan lagu. Seneng rasanya mendengar kabar gembira tentang mereka lewat SMS istriku.
”Aisyah subhanallah pinter sekali, mas. Umurnya baru 10 bulan tapi udah banyak hal-hal sederhana yang dia udah ngerti, cerewetnya luar biasa, sampai serak suaranya..” (25 Mei 2006).
”...Vari lari-lari dengan empeng di mulutnya, ais ngejar-ngejar dengan merangkak. Tapi vari baik banget sama ais, makanan dan mainan di kasihkan ke adeknya. Kalau vari nangis, ais ngusap-ngusap...” (26 Mei 2006).
”...ada donat baru: donat kucing, itu kata vari. Ceritanya ada tukang donat lagi jualan di depan rumah, terus ada kucing lewat, vari langsung nyanyi: donat kucing...” (1 Juni 2006)
Aku selalu menyimpan sms dari istriku tentang mereka, terutama yang bernada gembira dan lucu-lucu. Terbayang tingkah polah mereka,
menggemaskan, dan membuatku berbunga-bunga. Aku tak perlu menanyakan apa yang membuat mereka begitu ceria. Tapi kadang polah mereka bisa berubah sebaliknya membuat aku khawatir seperti cerita istriku berikut: ”Vari tadi kecebur kolam depan pak hartoyo, nangisnya setelah kuangkat dari kolam, aku mendekap badanya yang basah. Dalam tangisnya dia memanggil-manggil kamu. Sekarang sih udah riang, bercanda-canda..” (1 Juni 2006)Tentu saja aku bertanya kok bisa-bisanya kecebur kolam, mbak imus kemana? Vari emang seneng banget main di kolam depan rumah pak hartoyo dan pak teguh, karena ada ikannya dan airnya penuh. Biasanya aku biarkan dia ngamatin pergerakan ikan sampai dia pengin berenang bersama di dalamnya, sepertinya. Lengah dikit aja pasti udah masuk ke kolam. Mbak imus yang pandai menjaga vari pun kadang kecolongan karena lincahnya vari.
Jika kabar gembira, sms selalu kusimpan dan tak pernah kuhapus. Aku bisa membacanya lagi saat senggang. Tapi untuk sms dengan kabar sedih seperti sakitnya anak-anak, aku tidak kuat lama menyimpannya karena selalu terbawa kesedihan dan aku tidak sekuat istriku dalam mengingat berbagai memori suka dan duka. Rasa optimisku selalu menghalangiku untuk menyimpan memori kesedihan. Sementara istriku, lebih mampu menguasai perasaan itu menjadi ekspresi yang terlukiskan. Entah lah...
Duhai buah hatiku, yang terbaring lemah di permata bunda
Pastilah malaikatmu akan menghiburmu disana
Ibu akan selalu bersama kalian
Sabarlah nak, kuatkan, dan lewati hari-hari sakitmu
Allah akan segera meringankan ujian ini buat kalian
Duhai permata hatiku,
Maaf kan aku ndak bisa mendampingimu kini...
Mungkin ujian ini sebenarnya buatku
tapi kalian yang harus memikulnya
Maaf kan aku nak
Biarkanlah aku yang menanggung rasa sakit itu
Ya allah
Kumpulkan kami dalam keceriaan dan kebahagiaan selalu,
Biarkan kesedihan ini berlalu
Berilah kami kekuatan untuk selalu bersabar
Suatu saat pasti Engkau mengijinkan kami bersua lagi...
Amien...
Wageningen, 29 Oktober 2006






