Si dragon dan si global warming
Seorang penduduk nomaden dari Tibet tampak berdiri di antara dua danau glasial tempat asal muasal sungai Kuning yang mengalir di sepanjang daratan Cina. Dia meyakini keberadaan seekor naga yang mendiami danau dan sungai tersebut yang sekaligus juga sebagai dewa hujan. Kemarau selama hampir 2 dekade menurutnya karena sang naga sedang marah. Sebagian besar penduduk yang menggantungkan hidupnya pada peternakan itu sedang mengalami musim paceklik yang amat sangat panjang karena padang rumput telah berubah menjadi gersang. Ratusan penduduk nomad itu telah menjual ternaknya dan terpaksa pindah di sekitar danau (Internationa Herald Tribun, 20 Nov 2006).
Pendapat para ilmuwan tentu berbeda tentang kemarau itu, bukan si dragon tapi si global warming sebagai ulah yang membawa kemarau panjang. Temperatur bumi telah semakin panas, iklim pun berubah, perilaku hujan tahunan tidak lagi seperti biasanya, bahkan kemarau berlarut-larut pada satu negeri, sementara di belahan negeri yang lain, hujan tak henti-hentinya menyebabkan banjir. Apapun sebabnya, si dragon atau si global warming, hasilnya sama saja: kemarau dan kesengsaraan bagi penduduk Tibet di hulu sungai Kuning itu.
Wageningen, 22 November 2006
Wageningen, 22 November 2006


0 Comments:
Post a Comment
<< Home