Monday, October 23, 2006

Idul Fitri 1427 di Wageningen

Hari ini adalah lebaran pertama ku di Wageningen, kota kecil di tengah-tengah negeri belanda yang tak seberapa besar. Sebuah pagi di awal musim gugur, tepatnya tanggal 23 Oktober 2006 jam 07.45, setelah ngaret 15 menit, aku dan kawan-kawan dari Kingdom of Dijkgraaf berjumlah 2 cowok, 5 cewek mengayuh sepeda menuju ke "tanah lapang" di dekat centrum. Pagi masih gelap, selimut kabut masih belum tersingkap, hujan rintik-rintik mengiringi kayuhan pedal kami. Dingin yang menusuk tak begitu terasa, mungkin karena hangatnya suasana eidul fitri setelah sebulan berpuasa...sungguh pagi yang berkesan.

"Tanah lapang" yang dimaksud ternyata sama sekali bukan tanah lapang seperti halnya di kampung sendiri, tapi sebuah gedung tempat sekolah taman kanak-kanak. Eit, sebentar... bangunan taman kanak-kanak itu jauh lebih bagus dari bangunan sekolah dasar inpres di indonesia loh... Bangunan seluas ukuran masjid 10 x 10 meter bertingkat dua itu sanggup menampung paling tidak 200 jamaah muslimin dan muslimat. Menurut pak Zaini, panitia menyewa gedung TK tersebut untuk sholat eid yang kebetulan sedang tidak dipakai karena libur awal musim gugur. Sebelumnya, gedung ini juga dipakai untuk buka puasa bersama muslim international dan sholat teraweh berjamaah. Sebenarnya komunitas muslim Wageningen sedang merencanakan untuk membangun sebuah masjid dengan dana paling tidak 100.000 euro atau lebih dari 1 milyar untuk sebuah bangunan masjid yang sederhana. Apabila ada komunitas muslim sebanyak 1000 orang di Wageningen dan sekitarnya berarti satu orang minimal harus menyumbang 100 euro, tidak seberapa besar memang tapi butuh keikhlasan yang tinggi...

Sholat ied dimulai sekitar jam 9, setelah sebelumnya khotib memberi kesempatan jamaah masjid untuk membayar zakat fitrah sebesar 5 euro bagi yang belum menunaikannya karena zakat fitrah harus dibayarkan sebelum sholat dimulai. Dua orang petugas berkeliling ke tiap shaf sambil membawa kotak zakat. Takbir terus dikumandangkan dengan nada suara yang datar, tak seperti di Indonesia yang dilagukan dengan merdu mendayu-dayu. Tapi takbir disini lebih terdengar seperti koor barisan tentara yang bernyanyi lagu-lagu perjuangan...semangat!

Khatib menyampaikan khutbah dalam bahasa Arab dan English. Seperti halnya khatib di Indonesia, sang khatib mengajukan pertanyaan retoris kepada jamaah, apakah kita akan bersemangat beribadah hanya pada bulan Ramadhan? Apakah selepas Ramadhan, kita akan menjauh kembali dari Al Quran, sholat malam, puasa, berinfak, dan amalan kebaikan yang lain? Bulan Ramadhan hanyalah bulan seperti bulan lain dalam satu tahun dengan nilai yang lebih tinggi dibanding bulan lain, tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah tidaklah kemudian berhenti sampai di sini. Sang khatib juga berpesan untuk menunaikan puasa 6 hari di bulan Syawal karena nilai pahalanya sama dengan seolah-olah kita puasa sepanjang tahun.

Selepas sholat dan khutbah, jamaah kemudian saling bermaaf-maafan dan menyampaikan ucapan selamat idul fitri, sebagian ada yang berpelukan dan cium pipi 3 kali, sebagian ada yang cuman jabat tangan dan berpelukan sesuai dengan adat negaranya masing-masing. Beragam ras mulai dari penduduk lokal belanda, dan pendatang dari timur tengah dan afrika utara serta muslim dari asia mewarnai suasana pelangi tersebut. It's colorful and seems very nice.

Allaahuakbar allaahuakbar walilaahilhamd...! Taqabalallahu minna wa minkum...
Ya allah terimalah amal ibadah kami, dan terus bimbing kami menggapai petunjuk kebenaran-Mu. Engkau lah zat Yang maha berkuasa untuk membolak-balikan hati kami, tetapkan lah kami untuk mengerti dan mengeja tanda-tanda zaman, agar sinar-Mu menerangi jalan kami...Amien.


1 Comments:

At 1:07 PM, Blogger narrowdaylight said...

nice blog

 

Post a Comment

<< Home