Sunday, October 08, 2006

Sisi lain hanacaraka

Hanacaraka selalu dikaitkan dengan kisah datangnya Aji Saka ke tanah jawa dalam menunaikan misinya membrantas kejahatan di bumi Medang Kamulan yang dipimpin oleh Dewata Cengkar. Kisahnya bersama dengan dua utusan itu lah menandai lahirnya aksara jawa ini, meskipun dilatarbelakangi peristiwa yang memilukan. Tetapi peristiwa kepahlawanan itu menjadi pelajaran panjang bagi penduduk pulau jawa dengan filsafat hanacarakanya sampai kurun waktu tertentu.

Hanacaraka juga tidak bisa dilepaskan dari budaya modern kaum muda Jogja di akhir abad 20 yang kemudian secara kreatif menasional dengan kaos plesetan hanacaraka: "DaGaDu" alias your eyes... Wherever you are there, I am there as well secara kreatif bisa ditulis menjadi nidada panapanyu nibigu pana nyadu...sebuah otak-atik kreatif yang mendatangkan bisnis milyaran rupiah bagi pemegang patentnya dan sekaligus penjiplaknya...

Ternyata ada sisi lain dari hanacaraka selain sejarah, bisnis, dan budaya. Sisi spiritual hanacaraka menjadi pelajaran yang sangat menarik seperti nampak pada tulisan yang digubah oleh Sri Susuhunan Paku Buwono IX. Yasadipuro mengutipnya pada sarasehan yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal, 13 Juli 1992. (
www.jawapalace.org)

Menurutnya filsafat hidup manusia mendasarkan diri pada aksara ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya. Ajaran filsafat hidup berdasarkan aksara Jawa itu sebagai berikut :

Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada "utusan" yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan ).

Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data "saatnya (dipanggil) "tidak boleh sawala" mengelak " manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha " sama " atau sesuai, jumbuh, cocok " tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu " menang, unggul " sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan " sekedar menang " atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

Nah, hanacaraka hanyalah sebuah aksara seperti halnya alfabet yang lain, pintu bagi manuisa untuk bisa membaca "kepentingan" Tuhan, manusia, dan alam.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home