The first day go to school

6 September, hari itu adalah perjumpaan pertamaku di kampus Zodiac, Wageningen University dalam mata kuliah Trend in Forest and Nature Conservation. Si Arrend Bruinsting – disini menyebut dosen tidak perlu pakai gelar mister, bapak, ibu atau professor sekalipun, tapi jangan coba-coba dipraktekin di Negara sendiri ya, bisa gaswat…- koordinator mata kuliah ini menyampaikan bahwa kita mau ngadain workshop selama mengikuti kuliah ini… Workshop?! What’s a pity! Datang jauh-jauh mau kuliah malah disuruh workshop? Makanan apa pula itu?
Tanpa ba bi bu lagi, setelah sedikit kasih pengantar, dia langsung nawarin siapa yang mau jadi sukarelawan untuk menjadi presenter, pembahas dan notulen untuk workshop hari pertama esok harinya. Gila kupikir, biasanya aku seneng ngangkat tangan duluan, tapi ini harus ngomong pakai bahasa inggris, plus belum pernah baca artikelnya kayak apa, and harus bikin presentasi dalam waktu semalam. Emang roro jongrang, yang katanya bisa bikin 1000 candi semalam! Enak aja...kurungkan niatku buat jadi sukarelawan, lihat dulu petanya kayak apa.
Rupanya dagangannya si Arend agak kurang laku, tak satupun yang menyantap tawarannya, makanya dia langsung tunjuk 3 pasang buat presentasi, discussion point, and summary. Wah, rasain dah lue...aku cuman bisa bernafas lega... Setelah sukses menunjuk sukarelawan-mestinya « sukapaksaan » dong, barulah dia menawarkan pada yang lain untuk menuliskan jadwal presentasi, discussion point, and summary sesuai program dan tema yang sudah disiapkan. Kupilih semuanya dalam forest and nature policy group. Sebenarnnya pengin milih juga di forest ecology and management group, tapi udah keburu diambil orang. Yo wissss….jadilah tanggal 27 September untuk discussion point on rethinking community based conservation, tgl 28 buat summary on International ENGO role, and tanggal 4 October I have to do presentation on Financing SFM!)….Lumayan ada waktu 2 – 3 minggu persiapan.
Pengalaman hari itu cukup berharga bagiku, paling tidak satu metode pengajaran dalam kuliah yang belum pernah aku alami, workshop! Koordinator mata kuliah telah menyiapkan 19 artikel yang telah dipublikasikan dalam jurnal international tentang penelitian dari 4 group: plant and nature conservation, forest ecology and management, forest and nature policy, and forest resource ecology. Artikel itu paling lama berusia 10 tahun (1996) dan paling muda 2004, kesemuanya menggambarkan perkembangan penelitian yang telah dan masih dilaksanakan oleh Wageningen University dan beberapa peneliti international baik di Negara maju maupun berkembang.
Artikel itu dipilih sedemikian rupa untuk merepresentasikan trends dalam bidang kehutanan dan konservasi sumber daya alam yang terbaru. Kita, mahasiswa dibagi menjadi kelompok presenter untuk menyajikan artikel itu, kelompok pembahas untuk mengkritisi artikel, dan kelompik summary untuk mendokumentasikan hasil diskusi selama workshop. Workshopnya sendiri berlangsung kurang lebih 45 menit sampai satu jam. Setiap hari selama 4 hari seminggu mahasiswa terlibat dalam diskusi dengan tema yang beragam. Satu jam berikutnya adalah jatah dosen untuk memberikan kuliah tentang tema yang berkaitan dengan artikel yang baru dibahas, kadang 100 % cocok dengan tema, kadang hanya 30 % yang berkaitan dengan teori dalam artikel yang dibahas.
Pelajaran lain yang terkesan bagiku adalah kerjasama team dosen dalam mata kuliah ini. Ada 19 artikel yang berarti melibatkan 19 dosen lebih belum termasuk para coordinator group, jadi total berjumlah 21 dosen yang terlibat dalam mata kuliah ini. Masing-masing dosen menjadi tim ahli untuk memandu workshop dan memang punya keahlian yang sangat khusus, seperti ahli peathland, ahli carbon, dendrochronology, ahli satwa, ahli community based, policy, rumput-rumputan, dsb. Wow, setiap hari dosennya selalu gantian.
Selama berlangsungnya workshop, pelajaran lain yang bisa diperoleh adalah kebebasan berpendapat. Atmosphere academic sangat terasa disini. Mahasiswa bebas untuk berpendapat sekecil apapun kontribusinya dan sepanjang itu masuk logika dan beralasan, meskipun kadang menyalahi pendapat umum, sangat dihargai oleh dosen. Kemampuan berekspresi dengan bahasa inggris ala kadarnya dan pengakuan dosen atas keberagaman berpendapat secara bebas menjadi titik point yang sangat kurasakan. Aku mendambakannya dalam proses pendidikan di negeriku.
Mata kuliah ini cukup berat, 19 artikel, diskusi dalam bahasa inggris, dan kadang penguasaan materi yang bukan pada bidangnya membuat diskusi ngalor ngidul ndak focus pada sasaran. Kadang dosen pun tak mempunyai wawasan seluas yang diharapkan dan itu tidak membuat dosen menjadi jatuh kewibawaanya, karena memang topic bahasan bisa jadi meluas ke bidang yang sama sekali dia tidak kuasai atau ilmunya belum nyampe.
Seminggu lagi, mata kuliah ini akan diujikan, lulus sepanjang yang bisa kulakukan, harapan yang masih bisa kuusahakan, sebatas ikhtiyar menunaikan kewajiban seorang manusia pada Tuhannya, sponsornya, dan terutama pada diri sendiri... Seorang teman jauh hari sudah mengucapkan sympathy jika nanti tidak lulus, toh ada reexam...katanya. Duh...


0 Comments:
Post a Comment
<< Home